http://bandungpedal.blogspot.co.id/

http://bandungpedal.blogspot.co.id/

Minggu, 22 April 2018

Gowes ke Bukit Teletubbies (Sekeping Surga di Bandung Timur)


Gowes ke Bukit Teletubbies (Sekeping Surga di Bandung Timur)

Kukurusukan Squad

Kalo selama ini melihat bukit teletubbies hanya di TV, jika anda datang ke cicalengka, maka anda akan menemukan bukit teletubbies yang sesungguhnya. Lebih indah dari gambaran teletubbies yang ada di acara televisi anak-anak. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya perbukitan hijau dan gunung manglayang yang menjadi background apabila kita melihat ke arah matahari terbenam. Ibaratnya seperti sekeping surga yang dihamparkan di bumi bagian cicalengka hehe… walaupun sekeping surge jangan harap ada bidadari disini, yang ada hanya si Emak dengan kelakuan unik xixixixi…yang menjadi unik jika anda duduk atau jajan di warungnya, pasti anda dipalak tiket masuk, padahalkan masuk ke sini gratis.

Ini adalah perjalanan ke-3 saya gowes ke tempat ini, walaupun sudah 3xtapi tetap memilki ceritanya masing-masing. Pertama kali kesini pas H+3 libur lebaran, penasaran ke tempat ini langsung gowes sendiri dari rumah pagi-pagi nyampe lokasi jam 1 siang akibat nyasar haha… akibat dari google map yang tidak akurat dalam menyajikan lokasi. Speda ditaruh di warung bawah, naik ke bukit teletubbies jalan kaki akibat  males naikin sepeda ke atas haha… Gowes yang ke-2 yaitu gowes akhir tahun bersama Polybar. Pas gowes dengan polybar, sepeda dinaikin ke atas bukit dengan di gowes + dorong hehe… tapi tidak sampe ke puncak bukit teletubbies, hanya sampe warung si Emak, kemudian di gowes mengelilingi bukit. Dan yang ke-3 bersama kukurusukan yang akan saya ceritakan selanjutnya.
Pertama kali ke Teletubbies Juni 2017

Ke-2 kali bersama Polybar (Gobar Akhir Tahun)

Sabtu pagi jam 6, tetot..tetot.. bunyi whatsup terdengar bersahutan. Grup Whatsup ramai, informasi tikum dan cek lokasi, serta siapa aja yang ikut dan batal di grup, saya hanya mantau aja haha. Langit terlihat mendung, semalam bandung memang diguyur hujan deras. Flashback 2 minggu ke belakang menjadi salah satu minggu ter hectic dan terpadat, ibaratnya tenaga dan ikiran sudah overload. Maka, walaupun tugas kantor masih menumpuk, saya memutuskan tidak akan memikirkannya sabtu – minggu ini saya tidak mau diganggu engan pikiran kerjaan, biar nanti senin aja toh masih ada banyak waktu. Waktu libur ya buat libur, bukankah hidup itu harus balance??  Jam 7 saya putuskan gowes dan berangkat menyusul rombongan dari kukurusukan yang sudah start jam setengah 7 dari ujung berung. Rumah ke ujung berung kurang lebih 40 menit, jadi saya tertinggal kurang lebih 1 jam 10 menit. Sepedapun dipacu cukup kencang, istirahat sejenak di cileunyi itupun buat beli jas hujan plastik karna jas hujan plastik saya gak tau hilang entah kemana. 

Spot keren.. istirahat sebentar, ambil foto.. (kondisi mendung)

Sampai cicalengka saya istirahat sebentar untuk memonitor di grup posisi sudah sampai mana. Selisih saya dan rombongan kurang lebih 40 menit, artinya waktu tempuh bisa di reduce. Saya kayuh kembali sepeda saya, sampai akhirnya saya sampai di tempat mereka tapi istirahat. Spot disini salah satu spot terbaik sepanjang perjalanan, hamparan sawah dengan background gunung manglayang yang terlihat sangat gagah. Selain istirahat saya juga sempatkan untuk foto-foto mengabadikan perjalanan saya. Tempat sebagus dan seindah ini saying kalo tidak diabadikan. Terus terang, dirumah saya tidak sempat sarapan, jadi pas tadi di rancaekek sebetulnya sudah keroncongan, tapi saya tahan untuk mengerjar selisih ketertinggalan saya.  Selama perjalanan cuaca mendung, tapi bismillah… Go Ahead, karna buat goweser huhujanan adalah hal yang biasa haha3x. 

Berpasasan dengan goweser lain di perjalanan

Dari tempat tadi istirahat, sepeda langsung dikayuh kembali, saya estimasikan mereka sudah sampai kawasan curug cinulang istirahat disana buat sarapan, ngopi dan ngudud Haha3x… dan pasti lama kalo sudah ngopi dan ngudud, komo bari main catur hihi2x. dari tempat saya istirahat ke curug cinulang kurang lebih memakan waktu setengah jam dengan caatan sepeda di kayuh terus tanpa istirahat. Bisa dibilang jalur ke arah curug cinulang ini tanjakannya relative sopan, tidak ada tanjakan yang benar-benar bisa menguras tenaga seperti bengkok 0, tanjakan putus asa atau tanjakan Mahdi yang terkenal di bandung. Jarak dari raya Cicalengka ke curug cinulang kurang lebih 5 Km, kayuhan demi kayuhan sepeda saya nikmati, sambil diiringi dengan lagu “fantasy”, “always be my baby”, “shake it off”, and another MC song 😎😎
 
Terus terang, tenaga cukup terkuras dengan speed lebih cepat dari biasanya normal gowes. Papan arah curug cinulang sudah terlihat, namun saya lihat warung-warung kosong tidak ada yang berjualan. Saya pikir mereka akan istirahat disini. Pedal sepeda saya kayuh terus sampai pintu masuk curug cinulang and here they are.. Mereka masih ada di warung setelah curug cinulang. Alhamdulillah sesuai dengan prediksi, bahwa saya akan bertemu rombongan daerah curug cinulang. Pas nyampe sini waktu menunjukan pukul 9:30 WIB. Artinya dari rumah ke curug cinulang saya menempuh waktu 2,5 jam. Haha3x beda pisan dengan waktu pertama kali gowes kesini yang ditempuh dengan waktu kurang lebih 5 jam.  Mungkin pengaruh dari lulus even DBL kemarin xixixi… 

Komandan dan yang lainnya kaget saya nyusul kesini, mereka pikir saya gak jadi datang soalnya pas tadi di grup saya bilang “waduh posisinya udah jauh”. Akhirnya meraka yang tadi siap-siap mau lanjut berangkat tertunda beberapa menit lagi nunggu saya istirahat dulu. Posisi saya yang baru datang jadi alas an buat Mang udep (Komlod) dan pak guru (komdor) buat ngisep sebatang lagi haha3x. Saya manfaatkan warung buat istirahat sejenak dan mengisi perut yang dari tadi cacing-cacing di perut sudah pada demo minta diisi. Pisang 3, lemon tea, leupeut dan gorengan di hajar dulu buat ngisi perut.  Selesai istirahat kurang lebih 5 menit kahirnya perjalanan di lanjut. 

Tanjakan pertama menuju bukit - Dorong terus... xixixi

Dari curug cinulang ke pintu masuk bukit teletubbies kurang lebih sekitar 500 meter atau setengah kilo.  Lokasi bukit teletubbies di sebelah kanan, kalo yang belum tau atau belum pernah kesini dari curug cinulang lebih jalan dulu ke atas kemudian Tanya penduduk sekitar atau kalo nggak rajin tengok jkanan, karena plang nya kecil dan kurang terlihat. Pertama kali saya kesini bablas karena google map tidak menyediakan akses langsung masuk ke lokasi. Kalo dari google map harus muter lewat jalan belakang yang kondisinya sangat jauh. Nyampe pintu masuk… eng ing eng wkwkwkwk tanjakan – tanjakan curam mulai menanti. Beberapa anggota kukurusukan sudah duluan naik, ada yang didorong da nada yang digowes. Dan saya pribadi memilih untuk digowes, karena sebelumnya memang pernah menaklukan tanjakan ini waktu gobar dengan polybar. Di tanjakan pertama ini badan harus condong kedepan, dan sekuat tenaga pedal di kayuh karena kecuramannya bisa membuat ban depan ngangkat. Momen ini saya abadikan dengan mendokumentasikan Kukurusukers yang lagi dorong sepeda haha3x. 

Tanjakan ke-4 Masih lanjut dorong 😝😂😂

Om diano lulus ternyata

Setelah tanjakan pertama, masuk ke tanjakan ke-2, tingkat kecuraman hampir sama dengan tanjakan pertama tapi lebih panjang sedikit. Saya tidak memperhatikan siapa aja yang lulus di tanjakan ini, tapi sepertinya komandan Jae lulus di tanjakan ini, walaupun mayoritas kukurusukers sudah didorong. Saya sendiri di tanjakan kedua ini digowes, Alhamdulillah masih bisa lulus walaupun  dengan terpogoh-pogoh haha3x. selesai dari tanjakan ke-dua ada rumah warga sekaligus warung, pas saya kesini warungnya dalam kondisi tutup. Biasanya pas nyampe disini suka ditagih retribusi 5000, tapi Alhadulillah karena di rombongan kami ada yang kenal orang lokal jadi gratis. Karena memang masuk ke sini seharusnya gratis. Di dekat pintu masuk tanjakan kedua ini saya istirahat, selonjoran cukup lama kurang lebih 5 menit. Kukurukers sudah pada naik ke tanjakan ke tiga, tinggal saya dan komandan. Seperti biasa usilnya jeprat-jepret candid haha.. komandan dan saya akhirnya naik ketanjakan ke tiga, tanjakannya landau tapi tai kontur tanahnya tidak ratasetengah tanjakan masih bisa digowes selanjutnya dorong karena sudah kelelahan haha… masih belum bisa lulus full gowes ke bukit teletubbies xixixix.. teu nanaon lah yang penting enjoy kebersamaan, susah senang tanjakan berbagi bersama haha… sama-sama di dorong. Jangan harap liat komandan di gowes disini, beliau pun sudah full dorong sampai tanjakan ke-4. 

penampakan warung si Emak
 
Mr. Reza Reir
 
Hamparan permadani hijau sejauh mata memandang

Setelah tanjakan ke-4 hamparan bukit terlihat indah, begitu pun warung si Emak. Beberapa kukurusukers menyerbu warung si Emak buat ngopi dan ngudud. Komandan, saya dan beberapa orang kukurusukers yang pernah kesini males untuk duduk di warung, karena udah tau karakternya. Kukurusukers yang duduk di warung di tagih uang masuk 2K per orang, kalo gak salah dibayarin sama komlod (mang udep). Sejatinya tempat ini memang gratis. Di tempat ini kami bertemu dengan beberapa mahasiswa dan mahasiswi dari UNPAD yang sedang hiking. Sempet kami berkenalan, ngobrol bahkan foto bersama. Kalo diibaratkan kami seperti menemukan bidadari yang berada di hamparan surga. Tempat ini memang seperti sekeping surga yang dihamparkan dibumi. Karena sejauh mata memandang ysng terlihat hamparan bukit hijau yang berundak-undak. Foto selfie, wefie sampai boomerang sudah jadi hal yang wajib dilakukan. Termasuk saya sendiri yang coba untuk mengabadikan sudut-sudut indah dari bukit teletubbies ini. Dari warung si Emak masih ada satu puncak lagi bukit yang merupakan puncak tertinggi dari kawasan bukit teletubbies ini. Di atas sana, gunung manglayang terlihat gagah berdiri tegak. Puncak ini disebut juga camping ground bukit teletubbies. 

Instruksi dari komandan dorong!!! Pasukan ngikut xixixixi

Sampai di puncak teletubbies hujan sempat mengguyur tapi sebentar, mungkin sekitar 10 menit kemudian reda. Dari puncak camping ground kami turun menyusuri single trek, kemudian naik lagi ke satu bukit dan turun lagi. Sayang pas disini kami tidak mengabadikan Kukurukers yang berjejer menyusuri lereng bukit. Karena sebagian udah pada berangkat duluan. Trek menyusui lereng bukit teletubbies dominan tanah campur batuan dengan kondisi beberapa lokasi berlumpur. Alhasil semua sepeda belepotan dengan donat tanah.beberapa orang kukurusukers sempat di sereureuleu dan ti soledat saking licinnya jalan tanah berlumbur. Setelah menyusuri bukit teletubbies kita akan menemukan 2 perismpangan, yaitu lurus maka akan tembus di jalan arah kareumbi dan turun ke bawah akan tembus di nagreg. Karena kondisi cuaca yang mendung kami memutuskan pulang lewat jalan tadi berangkat yaitu via curug cinulang. Perjalanan kami berakhir di sebuah pemukiman warga, dengan warung kiri-kanan dan juga sebuah mushola. Kami memutuskan untuk istirahat disini. Sholat dan makan, sebagian makan baso sebagian makan nasi. 

 
Turun dari puncak.. Naik lagi ke puncak..

Trek tanah campur lumpur... Licin Bro!!!

Selesai Ishoma dan samai hujan reda kami memutuskan untuk pulang. Kami berangkat pulang dari teletubbies kurang lebih sekitar jam 2-an, menyusuri sesak dan macet nya jalan cicalengka - ranaekek - cileunyi. Buat saya jalanan macet itu lebih berat dari tanjakan haha.. kami berpencar di cileunyi dan ujung berung. Dari ujung berung ini saya sendiri harus mengayuh pedal untuk sampai rumah kurang lebih 40menit. Karena mayoritas anggota kukurukan rumahnya di daerah ujung berung. Kang cecep dan pak ayi yang rumahnya di dago di loading di transmart. sampai dirumah jam 4 lebih, beberapa menit kemudian bret hujan badag.. Alhamdulillah sampai rumah tepat waktu dan  Alhamdulillah juga semua kukurusukers pulang dengan selamat. Buat saya walaupun tempat gowes sudah pernah disinggahi, namun momen yang berbeda membuat gowes ke tempat tersebut tetap menyenangkan. Sekian bike Story dari sekeping surga di bandung timur.

Momen - Pengkondisian foto keluarga oleh komandan dan ...
 
Momen - Foto bareng para bidadari hehe..


Mr. Fotogenic : Selalu keren kalo difoto

Momen - Turun dari bukit menuju lereng

Momen - Asyiknya rame-rame

Momen - Terjatuh tikusruk (Kang Iyus)

Momen - Lereng bukit teletubbies

Kamis, 12 April 2018

Gowes ke Cikahuripan (Miniatur Green Canyon di Kabupaten Bandung, Serta Romantisme mengenang Historis jejak Bandung Purba)


CIKAHURIPAN

Belakangan ini beberapa akun travel di Instagram sering me-repost salah satu tempat yang terletak di daerah kabupaten Bandung Barat. Namanya adalah Telaga Cikahuripan. Biasanya sang model berdiri di atas rakit kemudian di foto dengan background sedimen batuan yang menyerupai Green Canyon di pangandaran dan air yang berwarna biru atau toska. Saya mencoba untuk searching dan mencari tahu tentang tempat ini. Belum banyak blog yang mengulas tempat ini, terutama blog yang berhubungan dengan kegiatan bersepeda. Artinya tempat ini masih cukup asing diantara para goweser di Bandung. Saya buka googlemap, dan tempat ini sudah tercantum di google map. Ada 2 jalur untuk menuju tempat ini, yaitu melalui rute Kota baru dengan jarak sekitar 43 Km dari gasibu dan via Rajamandala dengan jarak 53 km, lebih jauh dari rute kotabaru. Setelah research maka saya memutuskan untuk mencoba gowes ke tempat ini.

Start gowes dari rumah jam 7 Pagi, sampai kota baru jam 8:15. Istirahat sebentar di Indomaret Kotabaru depan RS Kawaluyaan untuk cek map dan isi logistic. Penting sekali untuk isi logistic ketika kita akan berpetualang ke daerah yang belum pernah dilalui, takut-takut disana jarang ada warung atau lokasinya masuk ladang atau hutan. Dari indomaret saya start gowes lagi jam 8:30 dengan jarak kurang lebih 19km dari kota baru, maka saya memprediksikan sampai lokasi cikahuripan paling telat jam 11 siang. Dari RS Kawaluyaan terus lurus melewati jembatan kuning kotabaru, sampai nemu persimpangan jalan buntu kotabaru. Disebut buntu karena akses jalan di ujung kotabaru sedang di cor, dari persimpangan tersebut hanya mengikuti jalan utama sampai keluar daerah kotabaru. Jalan yang disusuri mengelilingi bagian belakang wilayah kotabaru dan waduk saguling. Keluar dari kota baru jalan mulus aspal dengan kondisi sedikit menanjak, tapi masih sopan. Sepanjang jalan saya sempat berhenti beberapa kali untuk mengabadikan view yang cukup bagus. Sepanjang perjalanan cuaca mendung tapi tidak hujan. Beberapa kilo dari kotabaru, mulai masuk jalanan makadam. Kondisi trek pun bervariasi naik turun.  Sempat beberapa kali saya turun dari sepeda dan didorong di turunan macadam. Buat saya yang gowes solo safety nomor satu, karena kalo terjadi sesuatu di jalan mau tidak mau harus diatasi sendiri. Daripada celaka lebih baik turun dari sepeda dan didorong, toh tidak ada orang yang liat haha…
Hamparan sawah ketika keluar dari Wilayah Kotabaru Parahyangan


Sepanjang jalan bisa dibilang sepi, dan saya pun tidak menemukan goweser satu orang pun. Artinya sepanjang jalan menuju cikahuripan jarang dilalui oleh goweser, padahal kondisi treknya enak buat gowes santai, jarang kendaraan dan view nya juga bagus. Beberapa kilo dari kotabaru sinyal GPS sudah tidak bisa membaca peta (lost Signal), yang bisa diandalkan adalah nanya sama penduduk sekitar. Tips ketika Tanya ke penduduk di sepanjang jalan ini adalah punten pak/bu jalan ke arah rajamandala sebelah mana? Karena kalo Tanya jalan ke arah cikahuripan, mayoritas mereka kurang tau, mungkin karena cikahuripan nama tempat muara sungai bukan nama wilayah. Hal absurb yang sering ditemui ketika kita bertanya sama orang, 

Kami                  : Pak/bu punten daerah “anu” masih tebih?
Penduduk           : Oh henteu kang, tos caket sakedap deui 

Padahal setelah di gowes teu nepi-nepi haha… mungkin menurut beliau dekat itu kalo pake motor L kalo pake sepeda mah nya lumayan :D lumayan menguras emosi da jauh keneh J hal ini pun saya alami ketika nanya jalan ke arah rajamandala

Saya                   : kang punten jalan arah ka rajamandala masih tebih?
Bapak-bapak      : lumayan kang ngan palih dinya nanjak teras, sakedik da… kadituna mah mudun

Okay, mungkin ada satu atau dua tanjakan. Tanjakan pertama… wow lumayan lah haha, lumayan membuat dengkul nyut-nyutan.  Terus kemudian mudun pisan. disetiap pudunan pasti menanti sebuah tanjakan haha… Benar tanjakan kedua saya pikir karakternya dan tingkat kecuramannya mirip dengan tanjakan panjang palintang, dari sini tenaga terkuras banyak. Setelah tanjakan curam kedua saya pikir kesananya sudah mulai landau tapi ternyata oh ternyata… mungkin ini yang disebut si bapak tadi “nanjak teras kang” haha … memang nanjak teras kombinasi dengan pudunan. Jadi kalo direview trek kesini jalannya naik turun. Dan kalo dihitung ada 6 tanjakan yang tingkat kesulitannya sebanding dengan tanjakan panjang palintang.
Beberapa trek makadam (kurang lebih 20%)

Penampakan Tanjakan setara tanjakan panjang palintang

Saya keluar dari ujung jalan ini kurang lebih jam 11:30, sudah lewat dari target. Di persimpangan jalan ini (mentok) kearah kanan ke rajamandala sedangkan ke arah kiri ke cililin. Dan cikahuripan ke arah cililin. Keluar dari jalan tersebut google sudah bisa baca peta, artinya sinyal ketangkep. Dari persimpangan tersebut jalan turun terus dan hujan pun seketika ngagebret. Saya istirahat di warung, yang ternyata warung tersebut merupakan pintu masuk buat ke cikahuripan. Artinya kita daftar masuk atau beli karcis di situ. Masalah harga, seridonya karena belum dikelola secara professional. Jadi pengelolaan hanya sebatas dari inisiatif pemuda karang taruna setempat. Sampai warung saya pesan teh manis untuk sekedar menghangatkan badan dan menunggu hujan reda. Untuk yang pertama kali ke cikahuripan sebaiknya minta bantuan guide lokal, walaupun jaraknya 1 km ke lokasi takutnya nyasar seperti yang dialami saya, sok tau gak mau di guide-in. sebenarnya bukan gak mau, tapi uangnya pas-pasan haha… sepanjang jalan gak nemu ATM, seharusnya ngambil uang di ATM kotabaru, atm bank apapun karena keluar dari kotabaru jangan harap nemu ATM. Indomaret dan alfamart pun disana gak ada fasilitas ATM nya. 

Jam 12 saya masuk trek cikahuripan, di dorong tentunya karena kondisi tanah licin karena hujan dan jalanan turun. Penjaga nya sebetulnya sudah bilang ke saya dan memperingati saya agar sepeda jangan dibawa ke lokasi karena susah treknya harus nyebrang sungai. Walaupun sungai nya kecil, tapi pasti susah alias ripuh kalo bawa sepeda. Dalam hati, Jauh-jauh ke cikahuripan kalo difoto gak pake sepeda kayaknya kurang afdol, saya maksain bawa sepeda ke lokasi. Nyebur ke lokasi tanpa guide dan bawa sepeda dengan kondisi jalan licin dan hujan rintik, hanya bisa bilang Bismillah… Insya Allah selamat. Masuk lokasi beberapa ratus meter dari pintu masuk warung, saya sudah salah jalan alias tersesat. Jadinya mipir sawah setapak dengan kondisi sepeda di gotong. Ripuh sungguh ripuh. Sampai ketemu aliran sungai, disitu saya istirahat, foto-foto sambil liat sekeliling.
Nyasar jalan, malah lewat semak-semak

Kang… woy… seseorang memanggil di kejauhan, ternyata si akang tadi penjaga pintu masuk. Dia menghampiri saya. “kang udah nyampe lokasi?” Tanya dia. Saya jawab “belum kang”. Oh saya pikir udah nyampe lokasi kata si akang penjaga. Tadi lewat mana? Kata si guide lokal, oh.. tadi lewat sana kang (sambil saya tunjukin jalurnya). “waduh salah jalan kang, haha.. pasti ripuh nya” Tanya si guide lokal, “Iya kang” jawab saya. “Hayu kang ikut saya… (tawar si guide lokal). Akhirnya saya di bantu dia dianterin ke lokasi muara cikahuripan. Diperjalanan makprak jalan saya ngobrol dengan beliau, diceritakanlah tempat ini. Jadi tempat ini dulunya adalah anak sungai citarum yang alirannya sangat deras, semenjak dibuat bendungan saguling, maka arus sungai jadi jadi kecil, bisa dilewati, disebrangi dan dipakai berenang.  Sepanjang jalan terlihat batu-batuan basalt bekas aliran lava yang mengeras, karena kalau kita lihat historis bandung tempo dulu bahwa cekungan bandung terbentuk dari letusan gunung sunda pada zaman purba. Letusan tersebut menutup aliran sungai citarum di daerah sanghyang tikoro yang menyebabkan cekungan bandung menjadi danau. Lama-kelamaan sumbatan tersebut kembali lancar, dan menyebabkan danau bandung surut.  Jadi tempat yang saya susuri ini bagian dari aliran lava dari gunung sunda tempo doelo, karena cikahuripan dan sanghyang heuleut dan sanghyang tikoro merupakan satu aliran sungai. Sepanjang jalan menyusuri aliran sungai, disebelah kiri terdapat deretan tebing batu-batu kars yang menjulang indah dan membentuk tekstur. Satu hal yang menarik, bahwa tempat ini baru-baru ini dipergunakan untuk syuting film Wirosableng 212 yang diperankan Vino G. Bastian. 

Sebetulnya waktu yang ditempuh untuk mencapai lokasi ini dari pintu masuk adalah 15 menit, tapi berhubung saya tersesat tadi maka 1 jam waktu yang saya tempuh buat sampai lokasi di muara cikahuripan. Dari kejauahan terlihat miniature green canyon seperti di cukang taneuh pangandaran. Terlihat rakit yang menjadi ikon instagram tempat ini. Akhirnya sepeda saya parkirkan di atas lokasi, karena kondisi turun kebawah tidak memungkinkan saya untuk menggunakan sepeda. Aliran sungai yang cukup deras, disini aliran sungai bersatu dengan aliran dari tempat lain. Beberapa spot juga dalam, kondisi rintik-rintik hujan dan licin. Akhirnya saya harus mengabadikan momen duduk di atas rakit tanpa sepeda kesayangan. Kalo mau naik rakit di sini banyarnya seridonya ya buat akang penjaga rakitnya. Disana kami bertemu dengan penduduk lokal, ngobrol sambil foto-foto. Yang gak bawa makanan, jangan khawatir karena ada warung abah di dekat lokasi muara cikahuripan. Bisa makan gorengan, mie dan ngopi. 
Sepeda parkir di atas... momen nyebrang sungai

Foto tanpa sepeda hiks.. hiks... hiks...

Batuannya mengingatkan pada green canyon - pangandaran
Mata Air Cikahuripan (Yang ini Bikang)

Di cikahuripan terdapat sumber mata air yang bisa langsung di minum. Penduduk setempat sering mempergunakan air ini untuk kebutuhan sehari-hari termasuk untuk minum. Ada 2 mata air (Sejodoh). Yang satu disebut mata air jalu (laki-laki) dan satunya lagi bikang (Perempuan). Untuk mata air jalu rasanya relative lebih manis. Setelah puas fot-foto, ngobrol, saya memutuskan pulang.
Buat temen-temen goweser yang mau kesini dan untuk pertama kalinya kesini, jangan sungkan untuk minta bantuan guide lokal jangan sampai tersesat muter-muter kayak saya. Mereka baik dan welcome. Masalah tips itu mah keridhoan kita aja. Satu hal yang penting, selain bawa perlengkapan jangan lupa bawa uang yang cukup karena dicikahuripan gak ada ATM. Atm terdekat jaraknya 5km dengan kondisi jalan nanjak terus arah cicilin. Belum lagi biaya admin, selain biaya admin beda bank 6,5K ada admin tarik tunai sebesar 10K setiap transaksi. Karena system ambil uang dengan cara digesek di mesin EDC BRI. 


Para Guide Lokal

Kurang lebih jam 2 saya start pulang dari cikahuripan. Sebetulnya temen-temen guide lokal menyarankan lebih baik pulang lewat jalan tadi pergi soalnya lebih dekat. Sebetulnya ada 3 jalur dari sana. Jalur pertama lewat jalan berangkat yaitu via kotabaru. Yang kedua lewat raja mandala – cipatat – padalarang. Dan yang ketiga lewat cililin. Ini yang paling jauh dan liat trek yang muter gunung rasanya rute ini gak saya pilih untuk pulang. Lewat jalan pergi, rada ngeper dengan kondisi bekas hujan karena sebagian jalan makadam. Tapi bukan itu sih, trek naik-turun nya duh.. saya jadi ngeper. Akhirnya saya putuskan lewat jalan rajamandala. Katanya tanjakannya sedikit cuman disini aja, kesananya turun. Paling nanti naik lagi di cipatat. Lewat jalan rajamandala, saya melewati lokasi sanghyang heulet, ternyata lokasinya dibawah cikahuripan. Kalo saya boleh jujur trek terbaik adalah lewat tadi jalan pergi, tembus via kotabaru. Karena lewat rajamandala gak ada yang namanya tanjakan sakedik, yang ada tanjakan panjang. Belum lagi jaraknya yang 10KM lebih jauh ditambah daerah cipatat terus nanjak dan bnayk mobil-mobil besar lalu lalang membuat kita harus ekstra hati-hati. Akhirnya setelah menempuh waktu 5,5 jam saya sampai rumah, kira2 jam 7:30 malam. Ini bukan pertama kaminya saya gowes sendiri, yang jelas gowes sendiri selalu mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang tidak terlupakan. Jangan takut untuk sendirian, karena buat saya gowes sendiri justru akan mendapatkan banyak teman dan kenalan baru. Kita dipaksa untuk mandiri dan bersosialisasi.
Arah pulang via Rajamandala


View Perbukitan di belakang Kotabaru
Curug di Cikahuripan

Ngaprak Kamojang, Menjejal trek cibentang

Pintu masuk trek Cibentang, berada di kawasan PLTU Kamojang Trek Cibentang sebetulnya sudah lama eksis, dan menjadi trek favorit g...