 |
CIKAHURIPAN |
Belakangan ini beberapa akun
travel di Instagram sering me-repost salah satu tempat yang terletak di daerah
kabupaten Bandung Barat. Namanya adalah Telaga Cikahuripan. Biasanya sang model
berdiri di atas rakit kemudian di foto dengan background sedimen batuan yang
menyerupai Green Canyon di pangandaran dan air yang berwarna biru atau toska.
Saya mencoba untuk searching dan mencari tahu tentang tempat ini. Belum banyak
blog yang mengulas tempat ini, terutama blog yang berhubungan dengan kegiatan
bersepeda. Artinya tempat ini masih cukup asing diantara para goweser di
Bandung. Saya buka googlemap, dan tempat ini sudah tercantum di google map. Ada
2 jalur untuk menuju tempat ini, yaitu melalui rute Kota baru dengan jarak
sekitar 43 Km dari gasibu dan via Rajamandala dengan jarak 53 km, lebih jauh
dari rute kotabaru. Setelah research maka saya memutuskan untuk mencoba gowes
ke tempat ini.
Start gowes dari rumah jam 7
Pagi, sampai kota baru jam 8:15. Istirahat sebentar di Indomaret Kotabaru depan
RS Kawaluyaan untuk cek map dan isi logistic. Penting sekali untuk isi logistic
ketika kita akan berpetualang ke daerah yang belum pernah dilalui, takut-takut
disana jarang ada warung atau lokasinya masuk ladang atau hutan. Dari indomaret
saya start gowes lagi jam 8:30 dengan jarak kurang lebih 19km dari kota baru,
maka saya memprediksikan sampai lokasi cikahuripan paling telat jam 11 siang.
Dari RS Kawaluyaan terus lurus melewati jembatan kuning kotabaru, sampai nemu
persimpangan jalan buntu kotabaru. Disebut buntu karena akses jalan di ujung
kotabaru sedang di cor, dari persimpangan tersebut hanya mengikuti jalan utama
sampai keluar daerah kotabaru. Jalan yang disusuri mengelilingi bagian belakang
wilayah kotabaru dan waduk saguling. Keluar dari kota baru jalan mulus aspal
dengan kondisi sedikit menanjak, tapi masih sopan. Sepanjang jalan saya sempat
berhenti beberapa kali untuk mengabadikan view yang cukup bagus. Sepanjang
perjalanan cuaca mendung tapi tidak hujan. Beberapa kilo dari kotabaru, mulai
masuk jalanan makadam. Kondisi trek pun bervariasi naik turun. Sempat beberapa kali saya turun dari sepeda
dan didorong di turunan macadam. Buat saya yang gowes solo safety nomor satu,
karena kalo terjadi sesuatu di jalan mau tidak mau harus diatasi sendiri.
Daripada celaka lebih baik turun dari sepeda dan didorong, toh tidak ada orang
yang liat haha…

 |
Hamparan sawah ketika keluar dari Wilayah Kotabaru Parahyangan |
Sepanjang jalan bisa dibilang
sepi, dan saya pun tidak menemukan goweser satu orang pun. Artinya sepanjang
jalan menuju cikahuripan jarang dilalui oleh goweser, padahal kondisi treknya
enak buat gowes santai, jarang kendaraan dan view nya juga bagus. Beberapa kilo
dari kotabaru sinyal GPS sudah tidak bisa membaca peta (lost Signal), yang bisa
diandalkan adalah nanya sama penduduk sekitar. Tips ketika Tanya ke penduduk di
sepanjang jalan ini adalah punten pak/bu jalan ke arah rajamandala sebelah mana?
Karena kalo Tanya jalan ke arah cikahuripan, mayoritas mereka kurang tau,
mungkin karena cikahuripan nama tempat muara sungai bukan nama wilayah. Hal
absurb yang sering ditemui ketika kita bertanya sama orang,
Kami : Pak/bu punten daerah “anu” masih tebih?
Penduduk : Oh henteu kang, tos caket sakedap deui
Padahal setelah di gowes teu
nepi-nepi haha… mungkin menurut beliau dekat itu kalo pake motor L kalo pake sepeda mah
nya lumayan :D lumayan menguras emosi da jauh keneh J hal ini pun saya alami ketika
nanya jalan ke arah rajamandala
Saya : kang punten jalan arah ka rajamandala masih
tebih?
Bapak-bapak : lumayan kang ngan palih dinya nanjak
teras, sakedik da… kadituna mah mudun
Okay, mungkin ada satu atau dua
tanjakan. Tanjakan pertama… wow lumayan lah haha, lumayan membuat dengkul
nyut-nyutan. Terus kemudian mudun pisan.
disetiap pudunan pasti menanti sebuah tanjakan haha… Benar tanjakan kedua saya
pikir karakternya dan tingkat kecuramannya mirip dengan tanjakan panjang
palintang, dari sini tenaga terkuras banyak. Setelah tanjakan curam kedua saya
pikir kesananya sudah mulai landau tapi ternyata oh ternyata… mungkin ini yang
disebut si bapak tadi “nanjak teras kang” haha … memang nanjak teras kombinasi
dengan pudunan. Jadi kalo direview trek kesini jalannya naik turun. Dan kalo
dihitung ada 6 tanjakan yang tingkat kesulitannya sebanding dengan tanjakan
panjang palintang.
 |
Beberapa trek makadam (kurang lebih 20%) |
 |
Penampakan Tanjakan setara tanjakan panjang palintang |
Saya keluar dari ujung jalan ini
kurang lebih jam 11:30, sudah lewat dari target. Di persimpangan jalan ini
(mentok) kearah kanan ke rajamandala sedangkan ke arah kiri ke cililin. Dan
cikahuripan ke arah cililin. Keluar dari jalan tersebut google sudah bisa baca
peta, artinya sinyal ketangkep. Dari persimpangan tersebut jalan turun terus
dan hujan pun seketika ngagebret. Saya istirahat di warung, yang ternyata
warung tersebut merupakan pintu masuk buat ke cikahuripan. Artinya kita daftar
masuk atau beli karcis di situ. Masalah harga, seridonya karena belum dikelola
secara professional. Jadi pengelolaan hanya sebatas dari inisiatif pemuda
karang taruna setempat. Sampai warung saya pesan teh manis untuk sekedar
menghangatkan badan dan menunggu hujan reda. Untuk yang pertama kali ke
cikahuripan sebaiknya minta bantuan guide lokal, walaupun jaraknya 1 km ke
lokasi takutnya nyasar seperti yang dialami saya, sok tau gak mau di guide-in.
sebenarnya bukan gak mau, tapi uangnya pas-pasan haha… sepanjang jalan gak nemu
ATM,
seharusnya ngambil uang di ATM kotabaru, atm bank apapun karena keluar dari
kotabaru jangan harap nemu ATM. Indomaret dan alfamart pun disana gak ada
fasilitas ATM nya.
Jam 12 saya masuk trek
cikahuripan, di dorong tentunya karena kondisi tanah licin karena hujan dan
jalanan turun. Penjaga nya sebetulnya sudah bilang ke saya dan memperingati
saya agar sepeda jangan dibawa ke lokasi karena susah treknya harus nyebrang
sungai. Walaupun sungai nya kecil, tapi pasti susah alias ripuh kalo bawa
sepeda. Dalam hati, Jauh-jauh ke cikahuripan kalo difoto gak pake sepeda
kayaknya kurang afdol, saya maksain bawa sepeda ke lokasi. Nyebur ke lokasi
tanpa guide dan bawa sepeda dengan kondisi jalan licin dan hujan rintik, hanya
bisa bilang Bismillah… Insya Allah selamat. Masuk lokasi beberapa ratus meter
dari pintu masuk warung, saya sudah salah jalan alias tersesat. Jadinya mipir
sawah setapak dengan kondisi sepeda di gotong. Ripuh sungguh ripuh. Sampai
ketemu aliran sungai, disitu saya istirahat, foto-foto sambil liat sekeliling.
 |
Nyasar jalan, malah lewat semak-semak |
Kang… woy… seseorang memanggil di
kejauhan, ternyata si akang tadi penjaga pintu masuk. Dia menghampiri saya.
“kang udah nyampe lokasi?” Tanya dia. Saya jawab “belum kang”. Oh saya pikir
udah nyampe lokasi kata si akang penjaga. Tadi lewat mana? Kata si guide lokal,
oh.. tadi lewat sana kang (sambil saya tunjukin jalurnya). “waduh salah jalan
kang, haha.. pasti ripuh nya” Tanya si guide lokal, “Iya kang” jawab saya. “Hayu
kang ikut saya… (tawar si guide lokal). Akhirnya saya di bantu dia dianterin ke
lokasi muara cikahuripan. Diperjalanan makprak jalan saya ngobrol dengan
beliau, diceritakanlah tempat ini. Jadi tempat ini dulunya adalah anak sungai
citarum yang alirannya sangat deras, semenjak dibuat bendungan saguling, maka
arus sungai jadi jadi kecil, bisa dilewati, disebrangi dan dipakai berenang. Sepanjang jalan terlihat batu-batuan basalt
bekas aliran lava yang mengeras, karena kalau kita lihat historis bandung tempo
dulu bahwa cekungan bandung terbentuk dari letusan gunung sunda pada zaman
purba. Letusan tersebut menutup aliran sungai citarum di daerah sanghyang
tikoro yang menyebabkan cekungan bandung menjadi danau. Lama-kelamaan sumbatan
tersebut kembali lancar, dan menyebabkan danau bandung surut. Jadi tempat yang saya susuri ini bagian dari
aliran lava dari gunung sunda tempo doelo, karena cikahuripan dan sanghyang
heuleut dan sanghyang tikoro merupakan satu aliran sungai. Sepanjang jalan
menyusuri aliran sungai, disebelah kiri terdapat deretan tebing batu-batu kars
yang menjulang indah dan membentuk tekstur. Satu hal yang menarik, bahwa tempat
ini baru-baru ini dipergunakan untuk syuting film Wirosableng 212 yang
diperankan Vino G. Bastian.
Sebetulnya waktu yang ditempuh
untuk mencapai lokasi ini dari pintu masuk adalah 15 menit, tapi berhubung saya
tersesat tadi maka 1 jam waktu yang saya tempuh buat sampai lokasi di muara
cikahuripan. Dari kejauahan terlihat miniature green canyon seperti di cukang
taneuh pangandaran. Terlihat rakit yang menjadi ikon instagram tempat ini. Akhirnya
sepeda saya parkirkan di atas lokasi, karena kondisi turun kebawah tidak
memungkinkan saya untuk menggunakan sepeda. Aliran sungai yang cukup deras,
disini aliran sungai bersatu dengan aliran dari tempat lain. Beberapa spot juga
dalam, kondisi rintik-rintik hujan dan licin. Akhirnya saya harus mengabadikan
momen duduk di atas rakit tanpa sepeda kesayangan. Kalo mau naik rakit di sini
banyarnya seridonya ya buat akang penjaga rakitnya. Disana kami bertemu dengan
penduduk lokal, ngobrol sambil foto-foto. Yang gak bawa makanan, jangan
khawatir karena ada warung abah di dekat lokasi muara cikahuripan. Bisa makan
gorengan, mie dan ngopi.
 |
Sepeda parkir di atas... momen nyebrang sungai |
 |
Foto tanpa sepeda hiks.. hiks... hiks... | |
 |
Batuannya mengingatkan pada green canyon - pangandaran |
 |
Mata Air Cikahuripan (Yang ini Bikang) |
Di cikahuripan terdapat sumber
mata air yang bisa langsung di minum. Penduduk setempat sering mempergunakan
air ini untuk kebutuhan sehari-hari termasuk untuk minum. Ada 2 mata air
(Sejodoh). Yang satu disebut mata air jalu (laki-laki) dan satunya lagi bikang
(Perempuan). Untuk mata air jalu rasanya relative lebih manis. Setelah puas
fot-foto, ngobrol, saya memutuskan pulang.
Buat temen-temen goweser yang mau
kesini dan untuk pertama kalinya kesini, jangan sungkan untuk minta bantuan
guide lokal jangan sampai tersesat muter-muter kayak saya. Mereka baik dan welcome.
Masalah tips itu mah keridhoan kita aja. Satu hal yang penting, selain bawa
perlengkapan jangan lupa bawa uang yang cukup karena dicikahuripan gak ada ATM.
Atm terdekat jaraknya 5km dengan kondisi jalan nanjak terus arah cicilin. Belum
lagi biaya admin, selain biaya admin beda bank 6,5K ada admin tarik tunai
sebesar 10K setiap transaksi. Karena system ambil uang dengan cara digesek di
mesin EDC BRI.
 |
Para Guide Lokal |

Kurang lebih jam 2 saya start
pulang dari cikahuripan. Sebetulnya temen-temen guide lokal menyarankan lebih
baik pulang lewat jalan tadi pergi soalnya lebih dekat. Sebetulnya ada 3 jalur
dari sana. Jalur pertama lewat jalan berangkat yaitu via kotabaru. Yang kedua
lewat raja mandala – cipatat – padalarang. Dan yang ketiga lewat cililin. Ini yang
paling jauh dan liat trek yang muter gunung rasanya rute ini gak saya pilih
untuk pulang. Lewat jalan pergi, rada ngeper dengan kondisi bekas hujan karena
sebagian jalan makadam. Tapi bukan itu sih, trek naik-turun nya duh.. saya jadi
ngeper. Akhirnya saya putuskan lewat jalan rajamandala. Katanya tanjakannya
sedikit cuman disini aja, kesananya turun. Paling nanti naik lagi di cipatat. Lewat
jalan rajamandala, saya melewati lokasi sanghyang heulet, ternyata lokasinya
dibawah cikahuripan. Kalo saya boleh jujur trek terbaik adalah lewat tadi jalan
pergi, tembus via kotabaru. Karena lewat rajamandala gak ada yang namanya
tanjakan sakedik, yang ada tanjakan panjang. Belum lagi jaraknya yang 10KM
lebih jauh ditambah daerah cipatat terus nanjak dan bnayk mobil-mobil besar
lalu lalang membuat kita harus ekstra hati-hati. Akhirnya setelah menempuh
waktu 5,5 jam saya sampai rumah, kira2 jam 7:30 malam. Ini bukan pertama kaminya
saya gowes sendiri, yang jelas gowes sendiri selalu mendapatkan pelajaran dan
pengalaman yang tidak terlupakan. Jangan takut untuk sendirian, karena buat
saya gowes sendiri justru akan mendapatkan banyak teman dan kenalan baru. Kita dipaksa
untuk mandiri dan bersosialisasi.
 |
Arah pulang via Rajamandala |
 |
View Perbukitan di belakang Kotabaru |
 |
Curug di Cikahuripan |