http://bandungpedal.blogspot.co.id/

http://bandungpedal.blogspot.co.id/

Senin, 07 Mei 2018

GOWES KE CURUG CIHARUS - DANO LELES (VIA PASEH - WAREUG NGADORONG)


Foto by Taryan



INTRO: Gowes kali ini merupakan pengalaman gowes yang paling melelahkan buat saya, lebih melelahkan dari gowes bandung – pangandaran pada even DBL Bulan Maret lalu. walaupun melelahkan, tapi tapi saya sangat puas… buat saya gowes kali ini adalah gowes dengan trek Makadam terbaik, karena sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan yang luar biasa keren!!!


Foto by: Jae (Penampakan Curug Ciharus)

Gowes ke curug ciharus ini sudah direncanakan 2 minggu sebelumnya. Karena tujuan utamanya adalah silaturahmi ke rumah teman kami Kang Botang di leles garut, Alhamdulillah beliau telah dikaruniai seorang putri cantik dan kami berencana untuk melihat malaikat kecilnya itu. Menyampaikan amanat dari para anggota grup kukuruskan sekaligus gowes ke sana.

Foto by: Umay (Tikum: Transmart Cipadung)



STORY BEGIN: Sabtu, 28 April 2018 pagi-pagi buta adalah dimulainya berjalanan gowes ke curug ciharus. Seperti biasa dan yang menjadi ciri khas grup kukurusan ini kalo berangkat pasti nyubuh. Kami janjian di Transmart Cipadung jam setengah 6 pagi. Saya sendiri baru bisa berangkat dari rumah jam setengah 6 kurang sedikit. Jarak rumah saya ke tikum sekitar 40 menit, jadi bisa dipastikan saya datang terlambat ke tempat tikum.  Saya kontak komandan Jae untuk jangan menunggu saya, biar nanti saya menyusul. Saya sampai di transmart jam 6 lebih 5 dan para kukurusukers sudah berangkat meninggalkan tikum beberapa menit yang lalu. Om Jae mengirimi saya jejak di google map. Saya cek google map ternyata mereka berangkat ke leles via majalaya bukan via cicalengka karena dari jejak yang mereka tinggalkan rutenya ke arah sapan - majalaya. Saya coba susul mereka, dengan mengikuti petunjuk yang ditinggalkan om Jae di peta. Beberapa kali saya salah jalan, tidak sesuai dengan dengan petunjuk jalan yang diberikan oleh Om jae. Seharusnya via cimincrang, saya malah lewat jalan rumah sakit – gedebage. Saya coba untuk mengikuti jalur yang ditinggalkan oleh rombongan, Alhasil dilihat di peta posisi saya semakin jauh dengan rombongan. Karena saya harus banyak berhenti di tiap tikungan ngecek peta. Sampai di daerah sapan, saya istirahat sejenak untuk membuat jalur sendiri. Saya pasang google map kearah cijapati. Selama perjalanan menyusul rombongan, selain mengandalkan googlemap juga saya mengandalkan dari bertanya ke pada penduduk sekitar arah menuju cijapati. Hal tersebut saya lakukan untuk menghemat waktu tembuh supaya tidak banyak berhenti mengecek peta.



Foto by: Taryan (Keceriaan di perjalanan)
 

Dari sapan kemudian kea rah solokan jeruk kemudian masuk jalan anyar. Syukur Alhamdulillah saya bisa menemui rombongan yang baru saja beres sarapan kupat tahu di pertigaan majalaya.  Adapun team kukuruskan yang ikut Tour the Curug Ciharus ini adalah Komandan jae, Kang tatang sebagai Sohibul bet (Alias tuan rumah), Kang Donie, kang Taryan dan Kang Ade, dengan saya jadi berenam. Sesampainya disana saya ditawari sarapan dulu oleh rombongan, saya pura-pura bilang sudah sarapan karena gak enak kalo harus menunggu saya yang harus sarapan dulu. Akhirnya dengan perut kosong, diganjal oleh snack yang diberi oleh om Jae saya bersama rombongan berangkat menuju Curug Ciharus. Setelah masuk rombongan, saya gak perlu mikirin jalur lagi, karena om Jae dan kang Botang jadi petunjuk jalannya. Kami start dari majalaya sekitar jam 8, Saya pikir akan lewat jalan Raya Cijapati ternyata Bukan, jalur yang kami tempuh ternyata via Paseh atau desa Loa. Diantara rombongan, tidak ada yang pernah melalui jalur ini. Artinya jalur ini benar-benar buta buat kami.


Tanjakan Loa

Beberapa Km dari majalaya, memasuki jalan cipaku loa jalanan landai dengan kondisi aspal yang mulus. Trafik kendaraan pun sedikit, malah relative sepi dari lalu lalang mobil. Jalanan kemudian mulai menanjak, tapi masih relative landai, tapi kami harus bersiap karena jalur cijapati tanjakannya luar biasa. Artinya lewat sini pun kita harus bersiap dengan tanjakan-tanjakan ketujan yang belum diketahui. Memasuki desa Loa, kami mulai mendapati rintangan tanjakan yang setara dengan tanjakan khas bandung Utara, seperti tanjakan panjang palintang dan tanjakan putus asa warban.  Setelah melewati tanjakan tersebut kami istirahat sejenak, selonjoran dan menengguk air untuk setidaknya mengurangi lelah. Setelah melewati tanjakan tersebut jalan mulai semakin sepi, jalanan khas pegunungan seperti puncak bintang dengan kiri kanan lembah dan pemandangan bukit-bukit berselimut perkebunan penduduk. Hiasan aspal yang tadi kami lalui perlahan menghilang digantikan dengan jalanan makadam khas pedesaan. Tanjakan demi tanjakan kami lalui, kalori yang ada di tubuh pun seolah menghilang, digantikan dengan rasa lapar. Cacing-cacing di perut demo seolah minta diisi, karena memang saya sendiri kondisinya belum sarapan. Terlihat sebuah warung, saya minta ijin ke komandan jae untuk break sarapan pagi, yang sebetulnya rada telat sih. Semangkok mie instant cukup rasanya buat mengganjal perut yang lapar, sekaligus mengisi perbekalan air minum yang sudah mulai habis. Melihat saya pesen mie instan Om jae dan kang Ade juga ikutan buat pesan mie instant, katanya bahan bakar kalori yang dihasilkan dari sepiring kupat tahu di Majalaya sudah habis di jalan Haha. Kami ber-5 istirahat, yang gak makan hanya kang Donie dan Kang Taryan, sementara Kang Botang sudah duluan entah kemana. Memang diantara kami berenam kang Botang yang memiliki stamina “Gear Second” hehe.. (OP Lovers pasti tau gear Second)

Ngadorong Bike.. Jalanan rusak (setelah istirahat di warung)


Setelah mengisi perbekalan di warung dan melanjutkan perjalanan, kami dikejutkan dengan tanjakan-tanjakan liar dengan kondisi jalan rusak. Alhasil kondisi kondisi jalan rusak dengan kontur berbatu membuat kami kesulitan untuk mengayuh pedal, pada akhirnya senjata Ngadorong Bike keluar dari para peserta adventure tour D’ curug ciharus ini.  Sambil dorong, sambil sesekali istirahat, sambil sesekali ambil dokumentasi, terlihat wajah-wajah yang pucat dan kelelahan terutama dari komandan Jae yang katanya kemarin habis maen badminton hehe. Dari desa Loa menuju perbatasan Puncak Kab.bandung-Leles kurang lebih 4KM 80% saya gunakan untuk mendorong sepeda. Buat saya mendorong sepeda jauh lebih meleleahkan dibanding mengayuh pedal di tanjakan. Akibatnya kalori dari hasil makan mie instan sudah habis sebelum sampai tujuan haha… Kurang lebih jam 11-an kami sampai di persimpangan puncak perbatasan kab.Bandung-leles, untuk mencapai desa patrol masih harus ditempuh kurang lebih 2 km menurut informasi warga yang lalu lalang. Ditengah cuaca terik, kondisi tubuh yang kelelahan, ketika kami istirahat tiba-tiba seorang ibu-ibu menawarkan kami untuk mengambil jambu nya. Kata beliau: “kang, ambil aja semua jambunya, biar saya gak berat.” “Eh Bu hatur nuhun, timpa kami”, kemudian Om Jae Tanya, “Emang Ibu mau kemana?” Tanya beliau, SI Ibu jawab: “Bade ka Bandung Kang”. Wow.. ke bandung dengan berjalan kaki di tengah kondisi matahari yang terik menyengat. Jambu pemberian si Ibu seperti oase di padang pasir, haha… memang pada saat itu kondisi matahari sedang terik di tengah hari. Jambu menjadi nutrisi bagi sel-sel tubuh yang kelelahan serta pereda lambung yang kelaparan. Kang botang, Om Jae, Kang taryan, dan kang Ade terlihat lahap menghabiskan.

In Frame : Komandan Jae

Istirahat sejenak di perbatasan kab.Bandung - Leles
 
Menikmati jambu pemberian Si Ibu

Dari puncak perbatasan kab.Bandung-leles kemudian kami lanjutkan perjalanan dengan menurun, walaupun jalanan menurun tetap saja kondisi jalan yang rusak dan berbatu di beberapa bagian jalan membuat kami harus kembali turun dari sepeda dan menuntunnya. Sampai di Desa patrol kurang lebih jam 12-an dengan kondisi jalan makadam dan naik-turun. Kami memutuskan untuk beristirahat mencari masjid untuk menunaikan Shalat Dzuhur. Desa patrol ini letaknya sudah berada di Leles garut. 

Foto by: Taryan (Turun pun sepeda tetap di tuntun)

In Frame: Jae


Curug Ciharus ini letaknya di Dano Leles, di kaki gunung Guntur. Dari desa patrol ke curug ciharus ini ditempuh dengan jarak kurang lebih 5 km. Jam 12:30, setelah menunaikan shalat Dzuhur akhirnya kami melanjutkan perjalanan, perbekalan air sudah mulai menipis, perut sudah mulai keroncongan. Warung juga agak sulit disini. Trek dari patrol ke dano relative datar dengan tanjakan yang relative sopan, kondisi jalan 100% makadam, dengan kondisi melewati perkebunan penduduk dan hutan. Memasuki hutan Dano, kondisi jalan berpasir, artinya bahwa di daerah ini kondisinya dekat dengan gunung yang masih aktif yaitu gunung Guntur.

Foto by: Botang (Hutan menuju Curug Ciharus)

Foto by: taryan (Melewati perkebunan warga)


Jam setengah 2 kami sampai di pintu masuk Curug Ciharus, terlihat Curug Ciharus berada di ketinggian dari pintu masuk. Sepeda kami parkirkan dan titipkan di warung, karena kondisinya tidak memungkinkan buat kami membawa sepeda ke lokasi curug. Sebetulnya kondisi kami sudah kelaparan, berencana untuk makan mie instant season kedua, tapi kami tunda dulu nanti setelah dari curug. Terlihat anak-anak pramuka yang sedang camping di sekitar pintu masuk curug. Kami membayar retribusi HTM 5K per orang. Dari pintu masuk ke curug harus di tempuh dengan perjalanan kurang lebih 15 menit, dengan kondisi menaiki anak tangga. Ya kondisinya seperti trek naik gunung, oleh sebab itu sepeda tidak kami bawa ke lokasi. Trekking ke lokasi curug harus hati-hati karena samping jalan terdapat jurang. Setelah 15 menit trekking akhirnya kami sampai di lokasi curug. Curug Ciharus menjulang tinggi dengan ketinggian  lebih dari 50mter dengan background curug batuan basalt. Muara curug sepertinya dangkal, tapi kami memutuskan tidak berenang. Hanya ber-wefie ria. Sayang curug seindah ini kalo tidak didokumentasikan.  

Warung di dekat Pintu masuk Curug Ciharus


 
Trekking Curug Ciharus


Samping jurang, harus hati-hati

Foto by: Jae (Curug Ciharus)

Curug Ciharus


Selesai dari curug, kami kembali ke lokasi pintu masuk melanjutkan istirahat di warung sambil menyantap mie instan. Total hari ini sudah 2x makan mie instan, kebetulan warung tidak menyediakan nasi. Jam setengah 3 kami memutuskan untuk meninggalkan lokasi curug ciharus menuju ke Leles, rumah dari kang Botang. Jalan pulang tidak sama dengan jalan datang. Dari lokasi curug ciharus kami melewati single trek perkebunan warga. Kurang lebih 10 menit melewati single trek, akhirnya kami sampai di jalan utama pedesaan. Perjalanan kami lanjutkan ke arah timur menuju jalan raya Leles. Namun di persimpangan jalan desa, kondisi jalan utama ditutup sedang dilakukan pengecoran, sehingga kami harus memutar melewati jalan makadam. Jujur awalnya saya ngeri jika harus memutar, karena tepat di depan kami adalah gunung Guntur, jangan-jangan kami bakal menemui tanjakan lagi haha… terus terang walapun sudah di ganjal mie instan tapi kelelahan akibat banyak Ngadorong sepeda masih terasa di badan. Bismillah.. kami lanjutkan mengikuti kang botang melewati jalur makadam. Jujur jalan yang kami lalui diluar ekspektasi, ternyata jalan makam yang kami lauli retaive menurun, dan yang paling spektakuler adalah sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang luar baisa indah, dimana gunung guntur menjadi latarnya. Kiri kanan pesawahan dan ladang penduduk. Beberapa kali saya berhenti sejenak, mengeluarkan Camera dan mengabadikan keindahan-keindahan ciptaan-Nya selama perjalanan. Buat saya ini adalah trek makadam dengan view  “THE BEST THAT WE’VE EVER SEEN”. Buat Donnie, trek Curug Ciharus – Leles sepertinya menjadi neraka, karena dia pake Road Bike.


 
View - Sepanjang jalan menuju leles (Latar Gn.Guntur)
 
Menuju leles



Sampai di rumah kang Botang sekitar jam setengah 4, artinya perjalanan di tempuh sekitar 1 jam dengan kondisi menurun. Kami bertemu dengan keluarga beliau dan tentu saja Putri Cantiknya. Di rumah kang Botang, Alhamdulillah kami disuguhi dengan nasi liwet, jengkol, ikan asin, sambel, telor dan lalab. Hatur nuhun buat kang Botang atas jamuannya, mudah-mudahan Barokah. Dengan kondisi sore hari dan masih di Garut, yang ada di pikiran saya, kang Ade dan kang taryan adalah loading haha… biar gak kemalaman. Dan juga beratnya medan dari leles ke Bandung yang harus melewati tanjakan-tanjakan Kadungora dan Lingkar nagreg. 

Sajian dari Tuan Rumah (Nasi Liwet)


Jam setengah 5 kami memutuskan untuk pamit kepada tuan rumah, Kang Botang. Kang Botang sendiri stay di leles, gak ikut rombongan pulang ke bandung. Hal yang saya takutkan terjadi, Komandan Jae akhirnya memutuskan untuk mengayuh pedal ke bandung haha… “Hell day”. Mungkin beliau masih trauma dengan kasus kamojang yang pada waktu itudi loading, yang mengakibatkan beliau di Bully di grup WA terutama sama Pak Guru Alan wkwkwkwkw. Yang mengakibatkan trauma sampai sekarang. 

 
Foto by: Jae (lingkar nagreg)
Donnie dikarenakan ada pekerjaan yang menunggu di rumah, akhirnya memutuskan untuk duluan mengayuh pedal, keluar dari rombongan. Mengingat sepeda yang di pakai RB dia bisa melesat cepat di jalanan aspal. Dengan kondisi melenoy, tanjkan demi tanjakan kami lewati dari mulai kadungora sampai ke lingkar nagreg. Selama perjalanan istirahat hanya beberapa menit kemudian lanjut lagi, karena kami mengejar sebelum magrib harus sudah keluar dari lingkar nagreg. Akhirnya kami break dan menunaikan sholat magrib di cicalengka. dari cicalengka jalanan padat, dan sampai cileunyi kemacetan terjadi. Kamitetap pada rombongan karena kondisi sudah malam. Sampai ujung berung jam setengah 8, kami berpisah dengan kanga de dan komandan jae, dari ujung berung saya masih harus mengayuh pedal ke rumah sekitar 40 menit. Jam 8 lebih saya sampai rumah. Walapun jarak tempuh PP hampir sama dengan jarak dari rumah ke situ cisanti PP, tapi sensasi lelahnya lebih hebat dari Gowes even DBL kemarin (Bandung-Pangandaran).  Gowes kali ini Wareug Tuang, Wareug Makadam, Wareug Ngaboseh, Wareug ngadorong.

Ibu Warung



View Jalur Dano - Leles

Foto by: taryan


Foto by: Jae (Single trek)



Perkebunan warga


Surganya Jalur Makadam

Background Gn.Guntur















Ngaprak Kamojang, Menjejal trek cibentang

Pintu masuk trek Cibentang, berada di kawasan PLTU Kamojang Trek Cibentang sebetulnya sudah lama eksis, dan menjadi trek favorit g...