 |
Foto by Taryan |
INTRO: Gowes kali ini merupakan
pengalaman gowes yang paling melelahkan buat saya, lebih melelahkan dari gowes
bandung – pangandaran pada even DBL Bulan Maret lalu. walaupun melelahkan, tapi
tapi saya sangat puas… buat saya gowes kali ini adalah gowes dengan trek
Makadam terbaik, karena sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan yang luar
biasa keren!!!
 |
Foto by: Jae (Penampakan Curug Ciharus) |
Gowes ke curug ciharus ini sudah
direncanakan 2 minggu sebelumnya. Karena tujuan utamanya adalah silaturahmi ke
rumah teman kami Kang Botang di leles garut, Alhamdulillah beliau telah
dikaruniai seorang putri cantik dan kami berencana untuk melihat malaikat
kecilnya itu. Menyampaikan amanat dari para anggota grup kukuruskan sekaligus
gowes ke sana.
 |
Foto by: Umay (Tikum: Transmart Cipadung) |
STORY BEGIN: Sabtu, 28 April 2018
pagi-pagi buta adalah dimulainya berjalanan gowes ke curug ciharus. Seperti
biasa dan yang menjadi ciri khas grup kukurusan ini kalo berangkat pasti
nyubuh. Kami janjian di Transmart Cipadung jam setengah 6 pagi. Saya sendiri
baru bisa berangkat dari rumah jam setengah 6 kurang sedikit. Jarak rumah saya
ke tikum sekitar 40 menit, jadi bisa dipastikan saya datang terlambat ke tempat
tikum. Saya kontak komandan Jae untuk
jangan menunggu saya, biar nanti saya menyusul. Saya sampai di transmart jam 6
lebih 5 dan para kukurusukers sudah berangkat meninggalkan tikum beberapa menit
yang lalu. Om Jae mengirimi saya jejak di google map. Saya cek google map
ternyata mereka berangkat ke leles via majalaya bukan via cicalengka karena
dari jejak yang mereka tinggalkan rutenya ke arah sapan - majalaya. Saya coba
susul mereka, dengan mengikuti petunjuk yang ditinggalkan om Jae di peta.
Beberapa kali saya salah jalan, tidak sesuai dengan dengan petunjuk jalan yang
diberikan oleh Om jae. Seharusnya via cimincrang, saya malah lewat jalan rumah
sakit – gedebage. Saya coba untuk mengikuti jalur yang ditinggalkan oleh
rombongan, Alhasil dilihat di peta posisi saya semakin jauh dengan rombongan.
Karena saya harus banyak berhenti di tiap tikungan ngecek peta. Sampai di
daerah sapan, saya istirahat sejenak untuk membuat jalur sendiri. Saya pasang
google map kearah cijapati. Selama perjalanan menyusul rombongan, selain
mengandalkan googlemap juga saya mengandalkan dari bertanya ke pada penduduk
sekitar arah menuju cijapati. Hal tersebut saya lakukan untuk menghemat waktu
tembuh supaya tidak banyak berhenti mengecek peta.
 |
Foto by: Taryan (Keceriaan di perjalanan) |
Dari sapan kemudian kea rah
solokan jeruk kemudian masuk jalan anyar. Syukur Alhamdulillah saya bisa
menemui rombongan yang baru saja beres sarapan kupat tahu di pertigaan majalaya. Adapun team kukuruskan yang ikut Tour the
Curug Ciharus ini adalah Komandan jae, Kang tatang sebagai Sohibul bet (Alias
tuan rumah), Kang Donie, kang Taryan dan Kang Ade, dengan saya jadi berenam. Sesampainya
disana saya ditawari sarapan dulu oleh rombongan, saya pura-pura bilang sudah
sarapan karena gak enak kalo harus menunggu saya yang harus sarapan dulu.
Akhirnya dengan perut kosong, diganjal oleh snack yang diberi oleh om Jae saya
bersama rombongan berangkat menuju Curug Ciharus. Setelah masuk rombongan, saya
gak perlu mikirin jalur lagi, karena om Jae dan kang Botang jadi petunjuk
jalannya. Kami start dari majalaya sekitar jam 8, Saya pikir akan lewat jalan
Raya Cijapati ternyata Bukan, jalur yang kami tempuh ternyata via Paseh atau
desa Loa. Diantara rombongan, tidak ada yang pernah melalui jalur ini. Artinya jalur
ini benar-benar buta buat kami.
 |
Tanjakan Loa |
Beberapa Km dari majalaya, memasuki
jalan cipaku loa jalanan landai dengan kondisi aspal yang mulus. Trafik
kendaraan pun sedikit, malah relative sepi dari lalu lalang mobil. Jalanan
kemudian mulai menanjak, tapi masih relative landai, tapi kami harus bersiap
karena jalur cijapati tanjakannya luar biasa. Artinya lewat sini pun kita harus
bersiap dengan tanjakan-tanjakan ketujan yang belum diketahui. Memasuki desa
Loa, kami mulai mendapati rintangan tanjakan yang setara dengan tanjakan khas
bandung Utara, seperti tanjakan panjang palintang dan tanjakan putus asa warban. Setelah melewati tanjakan tersebut kami
istirahat sejenak, selonjoran dan menengguk air untuk setidaknya mengurangi
lelah. Setelah melewati tanjakan tersebut jalan mulai semakin sepi, jalanan
khas pegunungan seperti puncak bintang dengan kiri kanan lembah dan pemandangan
bukit-bukit berselimut perkebunan penduduk. Hiasan aspal yang tadi kami lalui
perlahan menghilang digantikan dengan jalanan makadam khas pedesaan. Tanjakan
demi tanjakan kami lalui, kalori yang ada di tubuh pun seolah menghilang,
digantikan dengan rasa lapar. Cacing-cacing di perut demo seolah minta diisi,
karena memang saya sendiri kondisinya belum sarapan. Terlihat sebuah warung, saya
minta ijin ke komandan jae untuk break sarapan pagi, yang sebetulnya rada telat
sih. Semangkok mie instant cukup rasanya buat mengganjal perut yang lapar,
sekaligus mengisi perbekalan air minum yang sudah mulai habis. Melihat saya
pesen mie instan Om jae dan kang Ade juga ikutan buat pesan mie instant,
katanya bahan bakar kalori yang dihasilkan dari sepiring kupat tahu di Majalaya
sudah habis di jalan Haha. Kami ber-5 istirahat, yang gak makan hanya kang
Donie dan Kang Taryan, sementara Kang Botang sudah duluan entah kemana. Memang
diantara kami berenam kang Botang yang memiliki stamina “Gear Second” hehe..
(OP Lovers pasti tau gear Second)
 |
Ngadorong Bike.. Jalanan rusak (setelah istirahat di warung) |
Setelah mengisi perbekalan di
warung dan melanjutkan perjalanan, kami dikejutkan dengan tanjakan-tanjakan
liar dengan kondisi jalan rusak. Alhasil kondisi kondisi jalan rusak dengan
kontur berbatu membuat kami kesulitan untuk mengayuh pedal, pada akhirnya
senjata Ngadorong Bike keluar dari para peserta adventure tour D’ curug ciharus
ini. Sambil dorong, sambil sesekali
istirahat, sambil sesekali ambil dokumentasi, terlihat wajah-wajah yang pucat
dan kelelahan terutama dari komandan Jae yang katanya kemarin habis maen
badminton hehe. Dari desa Loa menuju perbatasan Puncak Kab.bandung-Leles kurang
lebih 4KM 80% saya gunakan untuk mendorong sepeda. Buat saya mendorong sepeda
jauh lebih meleleahkan dibanding mengayuh pedal di tanjakan. Akibatnya kalori
dari hasil makan mie instan sudah habis sebelum sampai tujuan haha… Kurang
lebih jam 11-an kami sampai di persimpangan puncak perbatasan kab.Bandung-leles,
untuk mencapai desa patrol masih harus ditempuh kurang lebih 2 km menurut
informasi warga yang lalu lalang. Ditengah cuaca terik, kondisi tubuh yang
kelelahan, ketika kami istirahat tiba-tiba seorang ibu-ibu menawarkan kami
untuk mengambil jambu nya. Kata beliau: “kang, ambil aja semua jambunya, biar
saya gak berat.” “Eh Bu hatur nuhun, timpa kami”, kemudian Om Jae Tanya, “Emang
Ibu mau kemana?” Tanya beliau, SI Ibu jawab: “Bade ka Bandung Kang”. Wow.. ke
bandung dengan berjalan kaki di tengah kondisi matahari yang terik menyengat. Jambu
pemberian si Ibu seperti oase di padang pasir, haha… memang pada saat itu
kondisi matahari sedang terik di tengah hari. Jambu menjadi nutrisi bagi
sel-sel tubuh yang kelelahan serta pereda lambung yang kelaparan. Kang botang,
Om Jae, Kang taryan, dan kang Ade terlihat lahap menghabiskan.
 |
In Frame : Komandan Jae |
 |
Istirahat sejenak di perbatasan kab.Bandung - Leles |
 |
Menikmati jambu pemberian Si Ibu |
Dari puncak perbatasan
kab.Bandung-leles kemudian kami lanjutkan perjalanan dengan menurun, walaupun
jalanan menurun tetap saja kondisi jalan yang rusak dan berbatu di beberapa
bagian jalan membuat kami harus kembali turun dari sepeda dan menuntunnya.
Sampai di Desa patrol kurang lebih jam 12-an dengan kondisi jalan makadam dan
naik-turun. Kami memutuskan untuk beristirahat mencari masjid untuk menunaikan
Shalat Dzuhur. Desa patrol ini letaknya sudah berada di Leles garut.
 |
Foto by: Taryan (Turun pun sepeda tetap di tuntun) |
 |
In Frame: Jae |
Curug Ciharus ini letaknya di
Dano Leles, di kaki gunung Guntur. Dari desa patrol ke curug ciharus ini
ditempuh dengan jarak kurang lebih 5 km. Jam 12:30, setelah menunaikan shalat
Dzuhur akhirnya kami melanjutkan perjalanan, perbekalan air sudah mulai menipis,
perut sudah mulai keroncongan. Warung juga agak sulit disini. Trek dari patrol
ke dano relative datar dengan tanjakan yang relative sopan, kondisi jalan 100%
makadam, dengan kondisi melewati perkebunan penduduk dan hutan. Memasuki hutan
Dano, kondisi jalan berpasir, artinya bahwa di daerah ini kondisinya dekat
dengan gunung yang masih aktif yaitu gunung Guntur.
 |
Foto by: Botang (Hutan menuju Curug Ciharus) |
 |
Foto by: taryan (Melewati perkebunan warga) |
Jam setengah 2 kami sampai di
pintu masuk Curug Ciharus, terlihat Curug Ciharus berada di ketinggian dari
pintu masuk. Sepeda kami parkirkan dan titipkan di warung, karena kondisinya
tidak memungkinkan buat kami membawa sepeda ke lokasi curug. Sebetulnya kondisi
kami sudah kelaparan, berencana untuk makan mie instant season kedua, tapi kami
tunda dulu nanti setelah dari curug. Terlihat anak-anak pramuka yang sedang
camping di sekitar pintu masuk curug. Kami membayar retribusi HTM 5K per orang.
Dari pintu masuk ke curug harus di tempuh dengan perjalanan kurang lebih 15
menit, dengan kondisi menaiki anak tangga. Ya kondisinya seperti trek naik
gunung, oleh sebab itu sepeda tidak kami bawa ke lokasi. Trekking ke lokasi
curug harus hati-hati karena samping jalan terdapat jurang. Setelah 15 menit
trekking akhirnya kami sampai di lokasi curug. Curug Ciharus menjulang tinggi dengan
ketinggian lebih dari 50mter dengan
background curug batuan basalt. Muara curug sepertinya dangkal, tapi kami
memutuskan tidak berenang. Hanya ber-wefie ria. Sayang curug seindah ini kalo
tidak didokumentasikan.
 |
Warung di dekat Pintu masuk Curug Ciharus |
 |
Trekking Curug Ciharus |
 |
Samping jurang, harus hati-hati |
 |
Foto by: Jae (Curug Ciharus) |
 |
Curug Ciharus |
Selesai dari curug, kami kembali
ke lokasi pintu masuk melanjutkan istirahat di warung sambil menyantap mie
instan. Total hari ini sudah 2x makan mie instan, kebetulan warung tidak
menyediakan nasi. Jam setengah 3 kami memutuskan untuk meninggalkan lokasi
curug ciharus menuju ke Leles, rumah dari kang Botang. Jalan pulang tidak sama
dengan jalan datang. Dari lokasi curug ciharus kami melewati single trek
perkebunan warga. Kurang lebih 10 menit melewati single trek, akhirnya kami
sampai di jalan utama pedesaan. Perjalanan kami lanjutkan ke arah timur menuju
jalan raya Leles. Namun di persimpangan jalan desa, kondisi jalan utama ditutup
sedang dilakukan pengecoran, sehingga kami harus memutar melewati jalan
makadam. Jujur awalnya saya ngeri jika harus memutar, karena tepat di depan
kami adalah gunung Guntur, jangan-jangan kami bakal menemui tanjakan lagi haha…
terus terang walapun sudah di ganjal mie instan tapi kelelahan akibat banyak
Ngadorong sepeda masih terasa di badan. Bismillah.. kami lanjutkan mengikuti
kang botang melewati jalur makadam. Jujur jalan yang kami lalui diluar
ekspektasi, ternyata jalan makam yang kami lauli retaive menurun, dan yang
paling spektakuler adalah sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang
luar baisa indah, dimana gunung guntur menjadi latarnya. Kiri kanan pesawahan
dan ladang penduduk. Beberapa kali saya berhenti sejenak, mengeluarkan Camera
dan mengabadikan keindahan-keindahan ciptaan-Nya selama perjalanan. Buat saya
ini adalah trek makadam dengan view “THE
BEST THAT WE’VE EVER SEEN”. Buat Donnie, trek Curug Ciharus – Leles sepertinya menjadi
neraka, karena dia pake Road Bike.
 |
View - Sepanjang jalan menuju leles (Latar Gn.Guntur) |
 |
Menuju leles |
Sampai di rumah kang Botang
sekitar jam setengah 4, artinya perjalanan di tempuh sekitar 1 jam dengan
kondisi menurun. Kami bertemu dengan keluarga beliau dan tentu saja Putri
Cantiknya. Di rumah kang Botang, Alhamdulillah kami disuguhi dengan nasi liwet,
jengkol, ikan asin, sambel, telor dan lalab. Hatur nuhun buat kang Botang atas
jamuannya, mudah-mudahan Barokah. Dengan kondisi sore hari dan masih di Garut,
yang ada di pikiran saya, kang Ade dan kang taryan adalah loading haha… biar
gak kemalaman. Dan juga beratnya medan dari leles ke Bandung yang harus
melewati tanjakan-tanjakan Kadungora dan Lingkar nagreg.
 |
Sajian dari Tuan Rumah (Nasi Liwet) |
Jam setengah 5 kami memutuskan
untuk pamit kepada tuan rumah, Kang Botang. Kang Botang sendiri stay di leles,
gak ikut rombongan pulang ke bandung. Hal yang saya takutkan terjadi, Komandan Jae
akhirnya memutuskan untuk mengayuh pedal ke bandung haha… “Hell day”. Mungkin beliau
masih trauma dengan kasus kamojang yang pada waktu itudi loading, yang
mengakibatkan beliau di Bully di grup WA terutama sama Pak Guru Alan wkwkwkwkw.
Yang mengakibatkan trauma sampai sekarang.
 |
Foto by: Jae (lingkar nagreg) |
Donnie dikarenakan ada pekerjaan
yang menunggu di rumah, akhirnya memutuskan untuk duluan mengayuh pedal, keluar
dari rombongan. Mengingat sepeda yang di pakai RB dia bisa melesat cepat di
jalanan aspal. Dengan kondisi melenoy, tanjkan demi tanjakan kami lewati dari
mulai kadungora sampai ke lingkar nagreg. Selama perjalanan istirahat hanya
beberapa menit kemudian lanjut lagi, karena kami mengejar sebelum magrib harus sudah
keluar dari lingkar nagreg. Akhirnya kami break dan menunaikan sholat magrib di
cicalengka. dari cicalengka jalanan padat, dan sampai cileunyi kemacetan
terjadi. Kamitetap pada rombongan karena kondisi sudah malam. Sampai ujung
berung jam setengah 8, kami berpisah dengan kanga de dan komandan jae, dari
ujung berung saya masih harus mengayuh pedal ke rumah sekitar 40 menit. Jam 8
lebih saya sampai rumah. Walapun jarak tempuh PP hampir sama dengan jarak dari
rumah ke situ cisanti PP, tapi sensasi lelahnya lebih hebat dari Gowes even DBL
kemarin (Bandung-Pangandaran). Gowes
kali ini Wareug Tuang, Wareug Makadam, Wareug Ngaboseh, Wareug ngadorong.
 |
Ibu Warung |
 |
View Jalur Dano - Leles |
 |
Foto by: taryan |
 |
Foto by: Jae (Single trek) |
 |
Perkebunan warga |
 |
Surganya Jalur Makadam |
 |
Background Gn.Guntur |
Nuhun..
BalasHapusWareug maosna oge..
meni resep..
Sip
BalasHapusInsya Allah, ingin menjajal jalur ini
BalasHapus